Home / Aceh

Rabu, 15 Juli 2026 - 19:48 WIB

20 Perajin Banda Aceh Ikuti Pelatihan Bordir Berbasis Wastra Aceh

mm Redaksi

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menyerahkan cendera mata kepada perwakilan peserta usai membuka Pelatihan Bordir Kreatif Berbasis Wastra Aceh di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh, Selasa (14/7/2026).Foto:Dok Ist

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menyerahkan cendera mata kepada perwakilan peserta usai membuka Pelatihan Bordir Kreatif Berbasis Wastra Aceh di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh, Selasa (14/7/2026).Foto:Dok Ist

Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal membuka Pelatihan Bordir Kreatif Berbasis Wastra Aceh di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh, Selasa (14/07/2026).

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari tersebut merupakan kerja sama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Banda Aceh dengan BPVP Banda Aceh.

Sebanyak 20 peserta dari berbagai gampong di Banda Aceh mengikuti pelatihan yang menyasar pelaku industri kecil menengah (IKM) dan perajin bordir.

Materi yang diberikan meliputi pengembangan desain berbasis wastra Aceh, teknik pembuatan pola, praktik membordir, finishing, pengendalian mutu, pengemasan, hingga strategi pemasaran.

Dalam sambutannya, Wali Kota Banda Aceh itu mengapresiasi kolaborasi Dekranasda dan BPVP yang dinilai menjadi langkah nyata dalam memperkuat sektor UMKM. “Saat ini yang dibutuhkan bukan hanya produk yang bagus, tetapi juga produk yang mampu menjawab kebutuhan pasar,” ujar Illiza.

Menurutnya, wastra Aceh bukan sekadar kain, tetapi juga mengandung sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat Aceh.

“Pelestarian budaya akan semakin bermakna apabila mampu menghadirkan kesejahteraan. Ketika motif khas Aceh diolah jadi produk fesyen dan suvenir, maka budaya dan ekonomi dapat tumbuh beriringan,” kata Illiza.

Ia juga memaparkan Banda Aceh memiliki 269.552 penduduk dan 47.460 pelaku UMKM. Dalam setahun terakhir, angka kemiskinan di Banda Aceh disebut turun dari 6,95 persen menjadi 5,45 persen.

Menurut Illiza, pelatihan tersebut juga menjadi bagian dari implementasi program Cepat: Ciptakan Ekonomi yang Produktif, Akseleratif, dan Tumbuh, serta sejalan dengan Banda Aceh Academy untuk penguatan sumber daya manusia aparatur pemerintah dan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Banda Aceh, Amir Ridha mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen Dekranasda dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor kerajinan. “Kami ingin melahirkan perajin yang mampu menghasilkan karya berkualitas sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi. Pelestarian budaya akan kuat jika memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Amir Ridha.

Ia berharap produk bordir yang dihasilkan peserta memiliki identitas khas Banda Aceh dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Sekretaris Dekranasda Kota Banda Aceh, Inayati Sa’aduddin Djamal menambahkan pelatihan tersebut diperuntukkan bagi perajin yang telah memiliki kemampuan dasar membordir. “Yang kita lakukan adalah meningkatkan keterampilan mereka agar produk yang dihasilkan mampu bersaing bukan hanya di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional,” jelas Inayati.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat jejaring antarpengrajin agar dapat berkolaborasi dalam memenuhi pesanan dalam jumlah besar.

“Kami berharap bordir berbasis wastra tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat,” pungkasnya.(*)

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Aceh

Prodi Teknologi Informasi Paling Diminati pada PMB Reguler SSE UIN Ar-Raniry 2026