Acehpost.net – Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh menggelar pertemuan khusus dalam bentuk focus group discussion (FGD) untuk menindaklanjuti hasil tes kemampuan akademik (TKA) siswa-siswi Aceh tahun 2025 yang tergolong rendah, yakni hanya 22,47 dari skala 100.
Diskusi kelompok terpumpun (DKT) itu menghadirkan sejumlah kepala sekolah serta guru bahasa Inggris SMA se-Banda Aceh dan Aceh Besar, Rabu (25/02/2026) pagi.
Hadir juga Kepala UPT Bahasa Universitas Syiah Kuala, Dr Kismullah MEd; Kepala UPT Pengembangan Bahasa UIN Ar-Raniry, Teuku Murdani PhD, dan Direktur Kerja Sama dan Internasionalisasai Universitas Bina Bangsa (UBBG) Banda Aceh, Regina Rahmi, MPd.
FGD dua jam ini membahas strategi peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa menyusul rendahnya capaian TKA di Provinsi Aceh pada tahun 2025 (Aceh berada di peringkat 31 dari 38 provinsi se-Indonesa).
Pertemuan yang berlangsung di Opprom Disdik Aceh itu dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthallamuddin SPd, MSP, turut dihadiri Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Syarwan Joni MPd dan Plh Kepala Budang Pembinaan SMK merangkap Kepala UPTD Balai Tekkomdik Aceh, Syahrul MSi, dan staf BPMP Provinsi Aceh, serta jajaran staf Disdik Aceh Bidang Pembinaan SMA dan PKLK.
Widyaprada Ahli Muda BPMP Provinsi Aceh, Nida Kurniati MPd mengungkapkan bahwa rata-rata nilai TKA bahasa Inggris di Aceh berada pada angka 22,74.
Meski tidak jauh berbeda dari rata-rata nasional, bahasa Inggris merupakan mata pelajaran dengan capaian terendah.
“Sejak 2019 kita tidak lagi memiliki asesmen berskala nasional. Setelah UNBK terakhir pada 2019, tidak ada lagi standar penilaian yang sama untuk mengukur kompetensi individu siswa. Penilaian sepenuhnya diserahkan kepada satuan pendidikan, sehingga instrumen yang digunakan berbeda-beda dan sulit menjamin kesetaraan hasil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan TKA dilatarbelakangi kebutuhan akan data capaian siswa secara objektif. Terlebih, peserta TKA merupakan siswa yang terdampak pembelajaran masa pandemi (Covid-19), di mana proses belajar tidak berlangsung optimal.
Berdasarkan hasil monitoring BPMP di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, banyak siswa mengaku kurang terbiasa membaca soal berbasis stimulus dan penalaran.
Siswa cenderung menyukai soal langsung (to the point), bukan soal kontekstual yang membutuhkan pemahaman mendalam.
Dalam TKA bahasa Inggris, terdapat tiga kompetensi yang diukur, yakni pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi.
“Ia berharap langkah ini menjadi awal perbaikan pembelajaran bahasa Inggris di Aceh agar capaian akademik siswa meningkat dan lebih kompetitif di tingkat nasional,” tutup Murthalamuddin.
Menyangkut saran pendapat yang mengemuka selama FGD itu, akan dibuat segera resumenya, lalu dikerucutkan mana-mana rekomendasi yang bisa segera diterapkan pada tahun ini, mana pula untuk jangka menenagah dan panjang.
“Target kita. ranking TKA Aceh tahun depan harus lebih baik daripada tahun ini. Kita bekerja sama untuk mencapainya,” tegas Murthaamuddin.(*)
Editor: Redaksi










